Dalam menjalankan pekerjaan terkadang kita terjebak rutinitas. Kita melakukan hal-hal yang hampir sama setiap harinya. Ketika pergi ke kantor, kita cenderung menempuh rute yang hampir sama. Kita juga mengerjakan tugas yang itu-itu saja. Bahkan, kita cenderung mengobrol dengan orang yang hampir sama di kantor. Oleh karena itu, terkadang timbul rasa jenuh dalam diri kita.Itu sesuatu yang wajar. Anda dan saya tentu pernah mengalaminya. Namun, yang menjadi persoalan adalah perasaan itu cenderung membuat kita kontraproduktif. Tidak ada lagi rasa antusias dalam mengerjakan tugas. Oleh karena itu, kita sering menunda, bahkan meninggalkan tugas.
Lantas bagaimana Anda dapat menangani rasa jenuh itu dalam mengerjakan tugas-tugas harian?
Anda bisa mengatasi perasaan itu dengan mengubah suasana tempat Anda berada. Dalam buku ‘Misteri DNA’, Kazuo Murakami menjelaskan bahwa dengan mengubah lingkungan, kita dapat mengaktifkan DNA yang tertidur. DNA itu memberi stimulus baru pada diri kita. Akibatnya, kita menjadi lebih bersemangat.
Pikirkan ini. Kita tahu bahwa pada tanggal muda sejumlah orang beramai-ramai pergi ke pusat niaga atau tempat rekreasi. Mereka menghabiskan waktu mereka untuk menghibur diri dan keluarga. Lantas, menurut Anda, mengapa mereka rela menggunakan waktu (dan tentu saja uang) mereka untuk mengunjungi tempat-tempat itu? Tentu saja karena mereka ingin berganti suasana. Rutinitas kerja yang mereka jalani membuat mereka jenuh. Jadi, mereka membutuhkan suasana baru untuk melepas perasaan itu. Oleh karena itu, ketika masuk kerja, mereka tampak lebih “segar”. Mereka memperoleh stamina baru untuk menyelesaikan tugas-tugas kantor.
Namun, bagaimana kalau kita mempunyai dana yang terbatas untuk itu? Sangat mudah. Kita bisa menata ulang meja kerja kita. Namun, sebelum itu, kita perlu membereskan meja kerja kita. Kondisi meja kerja kita dapat menentukan tingkat produktivitas kerja kita.
Saya sering memerhatikan meja kerja orang lain. Ada yang mejanya tampak kosong. Ada pula yang meja kerjanya penuh dengan dokumen. Menurut Anda, pekerja manakah yang lebih cepat menyelesaikan tugas-tugasnya? Yang mejanya kosong ataukah yang mejanya penuh dengan dokumen? Tentu saja, yang mejanya kosong! Saya telah melihat bahwa pekerja yang mejanya kosong lebih produktif merampungkan tugas. Mereka juga bebas dari stres dan jauh lebih bahagia di kantor.
Mengapa itu bisa terjadi?
Jawabannya terletak pada efek sugesti. Kalau meja kerja Anda penuh, Anda akan merasa seperti ditekan pekerjaan. Anda akan selalu merasa dikejar deadline lantaran dokumen yang menumpuk. Akibatnya, Anda lebih mudah stres dan itu sangat kontra produktif. Sebaliknya, kalau meja kerja Anda kosong, Andalah yang menekan pekerjaan. Anda bebas dari stres. Anda juga lebih fokus bekerja sehingga dapat menyelesaikan lebih banyak tugas.
Setelah membereskan meja kerja, Anda bisa mulai menatanya. Anda bisa menempelkan gambar. Anda juga dapat mencantumkan kalimat-kalimat motivasi. Anda dapat menata ulang meja kerja Anda setiap dua bulan.
Selain itu, Anda juga dapat mengatasi rasa jenuh dengan melakukan hal yang berbeda. Saya telah menjelaskan bahwa penyebab dari rasa jenuh adalah rutinitas. Berarti solusinya adalah keluar dari rutinitas itu sendiri. Saya tidak menyarankan Anda untuk membolos dari kantor atau melanggar peraturan, tetapi saya meminta Anda melakukan hal-hal yang berbeda dalam rutinitas Anda. Kalau Anda terbiasa menempuh rute yang sama setiap harinya untuk pergi ke kantor, Anda bisa mencoba rute yang lain. Anda mungkin mengeluh, “Bagaimana kalau saya datang terlambat?” Anda dapat mencoba bangun lebih pagi daripada biasanya karena itu juga di luar rutinitas Anda. Kalau terbiasa mengobrol dengan teman sebelah, Anda dapat mencoba mengobrol dengan orang lain. Lakukan sesuatu yang baru dan temukan kesenangan dalam melakukannya.
Saya sering melakukannya. Setiap harinya saya mengajar 6-8 jam. Kadang tugas itu membuat saya jenuh. Jadi, alih-alih melakukan hal yang sama di kelas, saya mencoba hal yang baru. Misalnya saja, saya pernah memulai pelajaran dengan menyanyikan lagu untuk siswa-siswa saya. Itu sesuatu yang baru bagi saya dan siswa saya. Akibatnya, sepanjang pelajaran siswa saya lebih tanggap.
Kalau cara itu belum berhasil juga, Anda dapat mencoba cara lain. Anda dapat belajar mengendalikan rasa jenuh itu dengan cara mengendalikan tubuh Anda. Anda mungkin beranggapan perasaan itu sulit dikendalikan. Perasaan itu terkadang muncul dengan sendirinya. Jadi, Anda merasa perasaan itulah yang mengendalikan Anda dan bukan sebaliknya. Namun, sekarang penelitian psikologi menunjukkan bahwa Anda dapat mengendalikan perasaan. Anda dapat menyelaraskan perasaan dengan gerakan tubuh Anda.
Perhatikan postur tubuh Anda ketika Anda sedang jenuh. Kepala Anda tertunduk. Tubuh Anda condong ke depan. Kaki Anda terasa lemas. Anda merasa kurang bertenaga. Sekarang coba hal ini. Pada saat rasa jenuh muncul, tegakkan tubuh Anda. Biarkan tulang punggung Anda lurus dan santai. Angkat dagu Anda. Tutup mata Anda. Tarik nafas yang dalam beberapa kali. Bayangkanlah momen-momen ketika Anda tengah bersemangat. Lalu, bangkitlah dari tempat duduk Anda dan bersikaplah seolah-olah Anda merasa bersemangat. Kalau melakukannya beberapa kali, Anda akan merasa lebih bersemangat.
Merasa jenuh itu sesuatu yang manusiawi. Semua orang pernah mengalaminya. Bahkan, motivator kelas dunia sekali pun pernah merasakannya. Namun, perasaan itu tidak boleh menghambat pekerjaan kita. Kita dapat mengatasinya dengan mengubah lingkungan, melakukan hal yang baru dan menyelaraskan sikap tubuh kita. Dengan demikian, produktivitas kerja (dan tentu saja karier) kita tetap terjaga.
Sumber : http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2013/10/02/mengatasi-rasa-jenuh-dalam-bekerja-597051.html